Jumat, 05 Desember 2014

Just A Little (Bagian Kedua)

Kalimat Pertamanya

Hari Kamis, 21 Oktober 2010


Matahari tepat berada diatas kepala. Menyengat bagaikan kayu terbakar api. Sangat panas namun terasa sejuk. Seperti Air yang membasahi kulit di waktu Fajar. Itu semua dapat terjadi jika Engkau merasakan Perasaan yang tak bisa terucapkan. Panas yang terasa Sejuk disiang hari.
Bagaimanapun juga Sang Gadis masih tetap Menatap wajahnya. Sedang melihat pada Ring Basket yang ada didepannya. Sangat menawan. Tatapannya lurus ke arah Ring Basket, ia memegang bola, hanya tinggal melempar ke arah Ring. 

"Shoot ! Masukkan Bolanya !!" 

Teriak pelatih Tim Basket itu. Laki-laki itu men-shooting bolanya tanpa ragu. 3 detik waktu yang tersisa. 

"Tiga... Dua..." (Bola Masuk ke Dalam Ring) 
  "Masuk ! Three points untuk Lakers !" (Peluit akhir pertandingan berbunyi)

Semua yang ada dilapangan itu mendekati Tim Lakers dan mengucapkan selamat atas kemenangannya. Lautan manusia memenuhi lapangan Basket. Melihat itu semua bagai semut yang sedang bergembira tanpa ada hewan pengganggu yang lain. Menangis karena kegembiraan terjadi disana. 

"Jika masih membutuhkanku, Temui aku dimana kau bisa menemukanku." 

Teriak laki-laki yang men-shooting Bola. Sang gadis merasa Senang, Gadis itu sampai menangis. Mata ini tak bisa mempercayainya. Gadis itu menangis di keramaian. Sungguh tak bisa dipercaya. Merasakan apa yang terjadi disana. Dicuaca yang sangat panas masih tetap ada kesejukan disana.

Senin, 01 Desember 2014

Bayangan Kehidupan
Selalu ada. Selalu mangikuti. Tapi hanyalah Kekosongan.
By : Alfin's

Rabu, 26 November 2014

Just A Little (Bagian Pertama)

Awal Mulanya

Hari Selasa, 21 September 2010 


Setelah melihat dari sisi yang berbeda dari atap gedung, melihatnya tak jauh berbeda dengan sesuatu yang terasa. Angin berhembus dari Selatan, menghempaskan tubuh yang ramping dan tak berisi ini. Bagaimanapun juga perasaan ini begitu bergejolak. Sampai tak tahu apa yang terasa.

Seorang gadis berjalan langkah demi langkah untuk menaiki tangga. Begitu anggun namun mencurigakan. Melihat ke kanan dan ke kiri nampak seperti orang kebingungan. Melihat pun terlihat seperti orang hendak mencuri.  

Gadis itu bertanya kepada laki-laki yang tengah duduk, melamun disamping jendela tanpa kaca.


"Hey ! Boleh aku tahu siapa namamu?"
  "Bukan urusanmu." 

Jawabnya Ketus. Kemudian ia memalingkan mukanya kembali keluar jendela yang tak berkaca. Kemudian wanita itu menundukkan kepala lalu mendongakkan kepalanya, menatap laki-laki itu dan bertanya kembali.

"Begitukah caramu memperlakukan orang yang ingin mengenalmu."
  "Pergilaaah !" 

Si gadis menundukkan kepalanya kemudian berpaling dari laki-laki itu. Sedangkan laki-laki itu tengah menatap kembali apa yang dilihatnya dari dalam ruangan. Nada bicara tinggi, tak tahu sopan santun, dan sombong.